Astaghfirullah….
Aksi
(foto diambil dari detik.com)
Indra Shalihin – detikcom
Jakarta – Seribuan orang berkumpul menggelar Karnaval Budaya di Bundaran Hotel Indonesia (HI). Aksi ini digelar untuk menolak RUU Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Tapi, aksi damai ini ‘dikotori’ dengan aksi pamer payudara. Wah!
Pamer payudara ini dilakukan sekelompok orang yang berkumpul di mobil tronton, tempat panggung didirikan di pojok kawasan Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (22/4/2006). Mereka tampak mengenakan pakaian serba seksi. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengangkat pakaiannya ke atas dan memamerkan payudaranya.
Pemamer payudara ini tampak melakukannya dengan sukacita. Teman-teman satu kelompoknya juga tampak tertawa-tawa. Dilihat dari tampangnya, tampaknya mereka bukan dari kalangan perempuan, tapi dari kalangan waria.
Banyak tokoh dan artis yang mengikuti acara ini. Antara lain, istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, pedangdut goyang ngebor Inul, pemain sinetron Rieke Dyah Pitaloka, Becky Tumewe, Jajang C Noer, Lia Waroka, Olga Lidya, Ratna Sarumpaet, dan lain-lain.
Sebagian dari mereka mengenakan pakaian tradisional dari berbagai daerah. Dalam aksi itu juga digelar berbagai kesenian daerah, seperti tanjidor Betawi, sanggar tari Bali, komunitas masyarakat Tionghoa, pawai sepeda onthel, delman dan lain-lain. (asy)
Sumber : Detik.com
Beginilah jadinya bila pornografi dibiarkan berkembang biak di negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia !
Mungkin dunia akan mempertanyakan ke-musliman-nya penduduk muslim di Indonesia ?
Suatu hal yang naif sekali slogan: “Pornografi No, RUU APP No”, sebuah slogan yang bias dari kaum munafik.
Mereka dengan sengaja membiarkan bibit kerusakan moral tanpa sebuah aturan yang pasti.
Dan mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa (membiarkan) ketika saat mereka berpawai/berdemo menjunjung slogannya, peserta demo memamerkan payudaranya !
Untuk mereka yang naif tersebut, bicara lah dengan hatimu, lihatlah masa depan anak-anak kita. Jangan kita egois terhadap diri sendiri pada saat ini.
Memang mereka penikmat pornografi dan kapitalis yang mengambil profit dari pornografi akan merasa terjerat dalam RUU APP, karena mereka tidak memikirkan masa depan bangsa, meraka hanya memikirkan profit semata.
Sadarlah ….